Kimia Farma Disambut Gembira Dikarenakan Membuat Obat Bagi Penderita HIV/AIDS -Cara kita untuk bertahan hidup, pasien HIV perlu minum obat antiretroviral (ARV) setiap hari. Semua ini akan membantu mengendalikan virus dan memperlambat efeknya pada tubuh selama bertahun-tahun. Apakah itu ARV dan bagaimana obat ini bekerja dalam tubuh?

Penyakit ARV mengandung tiga zat aktif Tenofovir, Lamivudine, dan Efavirenz (TLE) yang kini tersedia dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC). Jenis obat ini juga harus dikonsumsi penderita HIV/AIDS tanpa putus sepanjang hidup. http://nahjbayarea.com/

Memang, obat ini tidak menyembuhkan HIV secara keseluruhan. Tetapi dapat mengurangi jumlah virus dalam tubuh seseorang dengan HIV dan membangun sistem kekebalan tubuh cukup kuat untuk melawan penyakit

Tidak hanya itu ternyata ARV juga tidak bekerja secara aktif membunuh virus. Bahkan sebaliknya, obat ini menargetkan dan memblokir berbagai tahapan siklus hidup virus. Dengan melakukan itu, virus tidak dapat mereplikasi diri.

Jika pengobatan berlanjut tanpa gangguan, populasi virus akan turun ke titik yang dianggap tidak terdeteksi.

Dikarenakan virus ini tidak terbunuh, ia dapat muncul kembali jika pengobatan tiba-tiba dihentikan. Dengan demikian, ARV adalah obat penting yang harus terus menerus dikonsumsi pasien HIV.

Hal yang sama dapat terjadi jika obat-obatan tidak dikonsumsi konsisten seperti yang ditentukan. Seiring waktu, dosis yang tidak konsisten dapat mengarah pada pengembangan resistansi obat dan akhirnya kegagalan pengobatan.

Bila dokter telah menentukan berapa banyak ARV yang harus dikonsumsi dan berapa kali harus diminum setiap harinya, hal ini wajib diikuti. Orang dengan HIV harus mengonsumsi ARV sesegera mungkin, terutama pada mereka yang tengah dalam kondisi hamil, AIDS, dan infeksi HIV dini.

Obat ARV terdiri dari lima kelas berbeda, yaitu:

  • Entry inhibitors
  • Nucleoside reverse transcriptase inhibitors
  • Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors
  • Integrase inhibitors
  • Protease inhibitors

Pasien HIV umumnya mengonsumsi beberapa jenis ARV sekaligus. Sebab, ketika digunakan dalam kombinasi, obat antiretroviral mampu secara efektif menekan banyak mutasi virus yang bisa ada dalam populasi HIV. Jika obat A tidak mampu menekan mutasi tertentu, maka obat B dan C biasanya bisa bekerja lebih baik.

Antiretroviral juga bisa digunakan untuk menurunkan risiko penularan HIV dari ibu ke anak. Untuk mencegah infeksi setelah paparan yang tidak disengaja, atau membantu orang yang HIV-negatif agar tidak terinfeksi.

Penggunaannya tentu dibawah pengawasan dokter, sebab setiap orang akan mengonsumsi obat ini dalam jumlah dan jenis berbeda.

Obat ini pun tak lepas dari efek samping seperti mual, muntah, diare, kelelahan, pusing, ruam pada kulit, sulit tidur, kesemutan, dan mati rasa. Namun, sering kali efek samping akan hilang ketika tubuh menyesuaikan diri dengan obat.

Ketersediaan ARV di Indonesia terbatas

Dimana pada saat ini  ketersediaan ARV TE dalam bentuk FDC sedang mengalami masalah. Dengan adanya penjelasan menurut Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition, Aditya Wardhana, salah satu penyebabnya adalah tidak ada kesepakatan harga antara pemerintah dan perusahaan farmasi yang memiliki izin edar obat tersebut.

“Dengan adanya Proses pengadaan obat ARV Fixed Dose Combination jenis TLE ini di tahun 2018 dinyatakan gagal. Perpindahan dana APBN tidak bisa tersalurkan untuk membeli obat tersebut,” kata Aditya.

Cara mengatasi  hal ini, Kemenkes melakukan pengadaan darurat dengan menggunakan dana bantuan donor Global Fund dan membeli obat ARV TLE langsung di India.

“Pengiriman obat sudah sampai di Jakarta awal Desember 2018 sejumlah 220 ribu botol dan hanya cukup sampai bulan Maret 2019,” katanya.

Apabila setelah stok obat ARV TLE diperkirakan habis pada Maret 2019, proses pengadaan selanjutnya masih belum dapat dipastikan.